HomeKesehatan GigiSakit Gigi Tak Kunjung Sembuh

Mengapa Sakit Gigi Tak Kunjung Sembuh?

Sakit Gigi Tak Kunjung Sembuh

Daftar Isi

Sakit gigi merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di Masyarakat. Sakit gigi, atau nyeri gigi, adalah rasa sakit yang berasal dari gigi atau jaringan penopangnya, baik karena kondisi gigi ataupun karena kondisi selain gigi yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada area gigi.  Ketika memburuk, sakit gigi akan berdampak besar terhadap kualitas hidup kita sehari-hari, seperti mempengaruhi makan, berbicara, tidur, dan aktivitas harian lainnya. 

Namun, terkadang sakit gigi yang kita alami tidak kunjung sembuh, bahkan setelah melakukan perawatan. Hal ini bisa menjadi pertanda adanya masalah yang lebih serius di baliknya. Dalam artikel ini, kita akan membahas bahaya sakit gigi yang tak kunjung sembuh beserta penyebab-penyebabnya.

Bahaya Sakit Gigi yang Tak Kunjung Sembuh

  1. Infeksi Menyebar: Salah satu bahaya utama dari sakit gigi yang tak kunjung sembuh adalah kemungkinan infeksi menyebar ke bagian tubuh lainnya. Infeksi gigi yang tidak diobati dapat menyebar ke rahang, area sinus, leher dan tenggorokan, atau bahkan masuk ke aliran darah, menyebabkan kondisi yang lebih serius seperti sepsis, infeksi berbahaya yang telah menyebar ke seluruh tubuh.
  2. Gangguan Fungsi Mulut: Sakit gigi yang terus-menerus dapat mengganggu kemampuan kita untuk makan dan berbicara dengan nyaman. Hal ini bisa berdampak negatif pada kualitas hidup sehari-hari.
  3. Kerusakan Gigi yang Parah: Jika sakit gigi disebabkan oleh masalah seperti karies gigi yang tidak diobati, dapat menyebabkan kerusakan gigi yang lebih parah hingga gigi harus dicabut.
  4. Gangguan Tidur dan Aktivitas Harian: Rasa nyeri yang terus-menerus dapat mengganggu tidur dan aktivitas harian, menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas hidup. Bahkan pada anak-anak, tidak hanya aktivitas harian yang dapat terganggu, melainkan juga dapat menghambat proses tumbuh-kembang mereka.

Penyebab Sakit Gigi yang Tak Kunjung Sembuh

Pandangan medis konvensional menyatakan bahwa tingkat kerusakan jaringan berkorelasi langsung dengan tingkat nyeri. Berikut adalah kondisi medis yang mengindikasikan adanya kerusakan pada gigi dan jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan sakit gigi.

1. Karies Gigi

Salah satu penyebab utama sakit gigi adalah karies gigi. Karies terjadi ketika bakteri dalam plak gigi mengubah gula menjadi asam, yang kemudian mengikis lapisan luar gigi (email). Rongga pada gigi bisa menjadi tempat masuknya bakteri. Jika rongga tersebut tidak ditangani segera, bakteri dapat berkembang biak dan menyebar hingga ke akar gigi sehingga menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada ujung akar gigi, serta nyeri yang hebat.

2. Trauma atau Cedera

Trauma pada gigi atau gusi bisa menyebabkan nyeri yang tak kunjung sembuh. Misalnya, terbentur keras atau terjatuh yang menyebabkan gigi patah sehingga terdapat rongga pada gigi yang bisa menjadi tempat masuknya bakteri.

3. Pulpitis/Radang Pulpa

Pulpitis, atau radang pulpa merupakan peradangan yang terjadi pada bagian tengah gigi yang menjadi tempat persarafan gigi, sehingga dapat menyebabkan rasa nyeri dan tidak nyaman pada penderitanya. Gigi yang memiliki lubang atau retakan yang besar biasanya dapat mengalami pulpitis

4. Infeksi Gigi

Infeksi gigi seperti abses gigi, kista gigi dan sejenisnya, merupakan proses kelanjutan dari pulpitis (atau penyakit gigi dan mulut lainnya) yang dibiarkan ataupun tidak dirawat. Apabila lubang pada gigi dibiarkan tanpa perawatan, maka ia akan menjadi tempat bagi bakteri untuk berkoloni dan berkembang biak.

Bakteri tersebut lama-kelamaan akan masuk ke dalam pulpa gigi (jaringan di dalam gigi yang mengandung saraf dan pembuluh darah) dan mulai menimbulkan rasa nyeri. Apabila dibiarkan lagi tanpa perawatan maka ia akan menjadi infeksi yang dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa dan, jika tidak diobati, bisa menyebar ke jaringan sekitarnya.

5. Hipersensitivitas dentin/Gigi sensitif

Gigi sensitif atau yang disebut juga gigi ngilu, merupakan rasa ngilu berlebihan atau nyeri akut yang disebabkan oleh rangsangan dingin (cairan maupun udara), serta makanan dan minuman yang manis atau pedas. Hal ini terjadi akibat adanya lapisan struktur gigi, yaitu dentin, yang terpapar karena adanya kerusakan gigi atau penyakit gigi lainnya sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.

6. Impaksi Makanan

Ketika partikel makanan, terutama makanan berserat seperti daging, terperangkap di antara dua gigi dan menekan gusi saat dikunyah, maka hal itu disebut sebagai impaksi makanan. Impaksi makanan dapat menyebabkan iritasi, sedikit rasa sakit atau ketidaknyamanan, serta sensasi yang menekan di antara gigi. Ketika disentuh, gusi akan mengembang, terasa sakit, dan berdarah. 

Impaksi makanan sulit dibersihkan. Sisa makanan yang tidak dibersihkan lama-kelamaan dapat mendukung pertumbuhan bakteri. Memang, ketidaknyamanan tersebut dapat diredakan sementara dengan melakukan flossing menggunakan benang gigi atau tusuk gigi. Namun ia akan kambuh lagi pada waktu makan berikutnya dan secara bertahap dapat membentuk abses pada gusi. Jika ingin mengobati keluhan ini secara total, maka anda perlu perawatan komprehensif dari dokter gigi.

7. Penyakit Gusi

Gingivitis, periodontitis, abses gingiva atau abses gusi, abses periodontal, serta radang gusi yang disertai sariawan adalah penyakit gusi yang bisa menyebabkan sakit gigi. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat merusak jaringan pendukung gigi, menyebabkan gigi goyang atau bahkan tanggal.

8. Tumbuhnya gigi bungsu

Peradangan pada gusi di sekitar gigi yang sedang tumbuh sebagian dikenal sebagai pericoronitis. Karena gigi bungsu rahang bawah tumbuh paling akhir di dalam mulut, maka gigi tersebut lebih berpotensi mengalami impaksi, atau terjepit, dengan gigi yang berdekatan. Akibatnya, hanya sebagian gigi yang terekspos di dalam mulut, dan operkulum (massa jaringan lunak) yang menutupi gigi tersebut dapat bergesekan dengan gigi yang berlawanan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Karena letaknya yang tersembunyi jauh di bagian belakang rongga mulut dan sulit dijaga kebersihannya, di bawah operkulum tersebut, biasanya menjadi tempat dimana sisa makanan dan bakteri menumpuk. Hal tersebut menyebabkan gigi bungsu dan gigi sekitarnya dapat mengalami periodontitis, karies gigi, serta iritasi jaringan lunak yang persisten.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan infeksi seperti abses perikoronal yang biasanya muncul sebagai rasa sakit yang hebat dan berdenyut yang dapat menyebar ke daerah kepala dan leher di sekitarnya. Gejala lainnya juga bisa ditunjukkan dengan adanya kemerahan dan bengkak, baik pada gusi yang menutupi bagian atas gigi, maupun pada wajah terutama pipi, serta trismus (kesulitan membuka mulut). Apabila anda mengalami kondisi tersebut, segera lakukan konsultasi dengan dokter gigi untuk penanganan yang tepat.

9. Stres psikologis

Stres dapat meningkatkan ketegangan pada rahang dan otot-otot sekitarnya, yang pada gilirannya dapat menyebabkan sakit gigi akibat tekanan gigit yang berlebihan. Tekanan gigit berlebih tersebut akan mengarah pada trauma oklusi, yang secara bertahap dapat menyebabkan timbulnya komplikasi penyakit gigi dan mulut. Selain akibat stres, trauma oklusi juga dapat dipicu oleh kebiasaan parafungsional yang buruk.

Selain itu, stres juga sering menjadi faktor pemberat dari banyak penyakit mulut maupun penyakit umum yang bermanifestasi di rongga mulut, seperti salah satunya ialah sariawan yang disertai peradangan gusi, yang kemunculannya ditandai dengan gejala nyeri yang luar biasa, gusi berdarah, serta napas yang tidak enak.

10. Penyebab Non-dental

Masalah medis pada area sekitar wajah dan kepala seperti Sendi temporomandibular atau TMJ, sinus, telinga, otak, arteri karotis, atau bahkan jantung juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada gigi. Sakit gigi juga sering digambarkan bersamaan dengan migrain, dan banyak kondisi medis lainnya yang rasa sakitnya menyerupai sakit gigi. Namun, jika dibandingkan dengan penyebab dari kondisi gigi, penyebab sakit gigi akibat kondisi selain gigi, atau non-dental, jauh lebih jarang terjadi.

Pengobatan Sakit Gigi yang Tidak Kunjung Sembuh

Seperti yang sudah disebutkan pada kalimat-kalimat sebelumnya, bahwa tingkat kerusakan jaringan berkorelasi langsung dengan tingkat nyeri. Artinya, semakin sering dan intens rasa nyeri yang anda rasakan, semakin parah kerusakan yang ada, maka semakin besar kebutuhan akan tindakan medis profesional.

Jika sebelumnya anda sudah merasakan sakit lalu membiarkannya atau melakukan pengobatan secara mandiri di rumah, namun kemudian rasa sakit itu kambuh lagi, maka langkah terbaik selanjutnya yang tepat untuk dilakukan adalah berkonsultasi segera dengan dokter gigi untuk mendapatkan pengobatan secara profesional, agar keluhan sakit gigi yang tidak kunjung sembuh tersebut menjadi sembuh dan tidak kambuh lagi di kemudian hari.

Selain itu, pemeriksaan segera ke dokter gigi juga diperlukan jika:

  • Mengalami sakit gigi yang sudah berlangsung lebih dari dua hari
  • Merasakan nyeri dengan intensitas tinggi
  • Mengalami demam, sakit telinga, atau nyeri yang bertambah parah saat membuka mulut lebar-lebar, dan;
  • Mengalami pembengkakan di mulut atau wajah.

Perawatan yang ditawarkan akan bervariasi tergantung penyebabnya, dapat berupa saran medis yang dipersonalisasi dengan kondisi pasien serta pemberian obat-obatan, dapat berupa penambalan karies gigi, perawatan saluran akar, pencabutan gigi, atau debridemen, dan lainnya.

Anda mungkin akan merasakan nyeri saat mendapatkan perawatan. Namun, nyeri tersebut tentu lebih baik daripada harus menunda penyakitnya lebih lama lagi. Sakit gigi yang tak kunjung sembuh bukanlah masalah yang sepele. Penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter gigi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan perawatan yang diperlukan. Jangan biarkan sakit gigi mengganggu kualitas hidup Anda atau berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Serta, tetap lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan gigi Anda. Ingat, mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Ditulis oleh: Nabilah Dzikriya Rahman, S.K.G

Ditinjau oleh: drg. Vashty A. Josall

Referensi:

  1. Telgote, A., & Udapurkar, P. P. (2024). An Overview Treatment and Prevention of Toothache. Journal of Drug Delivery and Biotherapeutics93(1), 51:120–130. Diakses 10 Maret 2024 http://pressinspire.com/JDDB/1/article/view/93/51
  2. Davari A, Ataei E, Assarzadeh H. Dentin hypersensitivity: etiology, diagnosis and treatment; a literature review. J Dent (Shiraz). 2013 Sep;14(3):136-45. PMID: 24724135; PMCID: PMC3927677. Diakses 10 Maret 2024 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3927677/
Referensi
  1. Sanjith AS, Don KR, Mohanraj KG. Knowledge and awareness of primary teeth and their importance among parents. Indian J Forensic Med Toxicol. 2020;14(4):5427–36.
  2. Levine RS. How should we manage caries in deciduous teeth? Dent Update. 2008;35(6):406–9.
  3. Kidd CE. Should Deciduous Teeth be Restored? Reflections of a Cariologist A contemporary view of caries. Dent Updat. 2012;39(3):159–66.
  4. Tinanoff N, Douglass JM. Clinical Decision‐Making for Caries Management in Primary Teeth. J Dent Educ. 2001;65(10):1133–42.

Siap untuk wujudkan senyum idealmu?

Yuk pilih cabang untuk konsultasi dengan dokter gigi ahli kami