HomeKesehatan GigiKelainan dan Penyakit Gigi dan Mulut

4 Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut: Kelainan, Penyakit Gigi dan Perawatan Pencegahan

Manfaat Perawatan Gigi 6 Bulan Sekali

Daftar Isi

Menjaga kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang penting dilakukan bagi setiap orang — baik laki-laki dan Perempuan, maupun anak-anak, usia dewasa, serta lansia. Menjaga kesehatan gigi dan mulut selain dengan perawatan gigi harian di rumah seperti menyikat gigi dll, penting juga loh untuk rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi.

Sebagian besar dari kita pasti sudah sering mendengar anjuran untuk kunjungan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Namun yang menjadi pertanyaan, sebetulnya apa ya pertimbangan yang mengharuskan 6 bulan sekali? Kenapa tidak bisa lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan ketika sedang sakit gigi saja? Untuk mengetahui jawabannya, yuk Simak ulasan Mydents berikut ini sampai selesai!

Manfaat Kunjungan Gigi Rutin 6 Bulan Sekali

Tujuan dari pemeriksaan gigi 6 bulanan adalah untuk mendeteksi dini penyakit gigi atau faktor pemberat penyakit gigi, sehingga dapat segera diberikan tindakan perawatan yang bisa menyembuhkan penyakit gigi tersebut.1

Pemeriksaan gigi secara berkala juga dapat membantu kita memiliki gigi yang sehat dan kuat serta membantu kita mengonsumsi makanan dengan baik. Sayangnya, kebanyakan dari kita belum memiliki kesadaran tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala.

Padahal, semakin rutin kita melakukan pemeriksaan 6 bulanan, semakin cepat masalah gigi dan mulut yang akan terdeteksi, maka perawatan pun akan semakin sederhana dan proses penyembuhan menjadi semakin besar, lebih sedikit juga perawatan gigi yang tidak perlu dilakukan, sehingga biaya kunjungan gigi yang dikeluarkan semakin murah dan hemat, risiko sakit pun akan semakin kecil.2 

4 Kelainan Utama Gigi dan Mulut

Terdapat 4 kelainan utama yang menjadi perhatian dokter gigi dan dapat dicegah ketika anda rutin melakukan kunjungan gigi 6 bulan sekali:1

1. Karies Gigi atau Gigi Berlubang1

Ilustrasi Gigi Berlubang (Cavity Teeth)

Pemeriksaan gigi secara rutin bermanfaat untuk mendeteksi gigi berlubang. Gigi berlubang beserta konsekuensi atau komplikasinya adalah yang paling sering ditangani oleh dokter gigi. Banyak orang yang mengabaikan sakit gigi karena berbagai alasan, entah itu karena kesibukan atau takut ke dokter gigi. Sehingga sakit gigi pun menjadi lebih parah akibat telatnya memeriksakan kesehatan gigi.  Padahal, bisa saja rasa nyeri gigi yang anda rasakan ketika makan dan minum itu adalah tanda masalah gigi berlubang yang tidak boleh diabaikan.

Mungkin rasa sakit bisa hilang dengan sendirinya, namun jika tidak ditangani, gigi berlubang akan semakin parah dan menyebabkan infeksi. Pada kondisi gigi berlubang yang tidak diobati, lubang tersebut akan semakin menganga lebar. Sehingga plak sisa makanan yang menjadi tempat berkumpulnya kuman dan bakteri, bisa menempel bahkan terselip dengan mudah pada gigi dan menyebabkan infeksi ke bagian akar.

Efeknya, gigi bisa mengalami rasa nyeri yang luar biasa parah serta pembengkakan (abses). Pada orang dengan daya tahan tubuh rendah, infeksi gigi ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain seperti area sinus, rahang, leher, hingga dada yang mana apabila sudah tersebar ke bagian dada, resiko paling fatal yang dapat terjadi adalah resiko kematian. Mengerikan sekali, bukan?

Gigi berlubang juga bisa menyebabkan gigi ompong apabila kita terus-menerus menunda perawatan gigi berlubang, sehingga gigi berlubang yang mulanya bisa ditambal atau bahkan dicegah dengan perawatan gigi harian di rumah dan kunjungan rutin ke dokter gigi, menjadi harus dicabut.

2. Penyakit Periodontal atau Penyakit Gusi

Periodontitis Radang Gusi atau Gum Disease

Salah satu masalah gigi dan mulut yang paling umum lainnya ialah penyakit periodontal. Pemeriksaan gigi bisa dilakukan sedini mungkin untuk mencegah timbulnya penyakit periodontal beserta komplikasinya. Penyakit periodontal, atau penyakit gusi, adalah infeksi kronis (jangka panjang) pada jaringan keras (tulang rahang) dan jaringan lunak (gusi) yang menyokong gigi.3

 Penyakit periodontal merupakan penyakit yang serius karena dapat mempengaruhi gigi pada hampir semua populasi manusia dan merupakan penyebab utama kehilangan gigi atau yang biasa kita kenal dengan istilah gigi ompong.1 Gigi ompong dapat mengganggu fungsi gigi dan kualitas hidup pada manusia,3 seperti halnya kualitas makan, pencernaan, dan berbicara yang bisa terganggu karena fungsi mengunyah dan proses pelafalan yang melibatkan gigi geligi menjadi tidak bekerja secara maksimal.

Terlebih lagi, gigi ompong juga mempengaruhi estetika dan penampilan kita. Selain itu, infeksi kronis terkait dengan penyakit periodontal juga dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan seperti pneumonia aspirasi pada lansia dan terlibat dalam proses munculnya penyakit-penyakit yang dapat mengganggu kesehatan secara umum seperti penyakit diabetes, jantung, penyakit Alzheimer, dll.3

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan bahwa 47% orang dewasa di atas 30 tahun mulai mengalami penyakit periodontal. Dengan bertambahnya usia, maka 70% orang dewasa di atas 65 tahun akan mengalami penyakit tersebut.3

Nah, komplikasi-komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit periodontal sudah dibahas. Lalu sekarang, apa ya sebab utama munculnya penyakit periodontal? Penyebab utama penyakit periodontal ialah plak dan karang gigi yang sehari-hari ada di mulut kita.4 Mungkin anda berpikir bahwa gigi dan mulut anda sehat-sehat saja tanpa perlu konsultasi dokter gigi secara rutin.

Meskipun anda selalu sikat gigi 2 kali sehari ditambah dengan flossing (benang gigi) secara teratur, tetap saja gigi anda tidak 100% bebas dari plak. Masalahnya, plak yang tidak dibersihkan, semakin lama akan semakin menumpuk dan mengeras membentuk karang gigi. Begitu karang gigi sudah terbentuk, akan sulit untuk dibersihkan dengan sikat gigi atau floss

Solusinya? Tentu saja konsultasi ke dokter gigi. Ketika anda mengunjungi dokter gigi, mereka akan langsung memeriksa kondisi gigi dan rongga mulut anda. Bila dokter gigi melihat adanya karang gigi, maka anda akan langsung dianjurkan untuk melakukan prosedur pembersihan karang gigi. Setelah itu, dokter gigi juga akan memberikan anda arahan bagaimana cara merawat kebersihan dan menjaga kesehatan gigi dengan benar setiap harinya. 

 Dengan demikian, risiko terjadinya penyakit periodontal bisa diturunkan, jika kita rutin melakukan periksa gigi 6 bulan sekali,3 Ini berarti, Anda juga akan terhindar dari kejadian gigi ompong beserta komplikasi-komplikasinya yang telah disebutkan sebelumnya.

3. Maloklusi atau Kelainan Gigitan

Maloklusi Gigi Berantakan, Gigi Renggang dan Crossbite

Nah, sebagian pembaca mungkin belum tahu apa itu maloklusi, tetapi jika disebutkan kata “behel” pasti banyak yang sudah tidak asing lagi dengan istilah ajaib tersebut. Behel —yang tidak lain merupakan bahasa awam yang berkaitan dengan Perawatan Ortodonti— adalah salah satu jenis alat yang digunakan untuk penanganan Maloklusi.

Maloklusi, atau kelainan gigitan, merupakan kondisi dimana rahang atas dan bawah tidak sejajar dengan semestinya. Salah satu contoh istilah yang tidak asing untuk menggambarkan maloklusi adalah ‘gigi maju’ atau ‘gigi cameh’.

Maloklusi dianggap sebagai gangguan perkembangan dan masalah kesehatan gigi yang tingkat kejadiannya sangat tinggi di sebagian besar negara serta membutuhkan perawatan.5,6 Fungsi mulut yang berubah seperti pengunyahan, berbicara, menelan, dll dapat menyebabkan adaptasi hubungan antara wajah dan mulut yang dapat mengakibatkan maloklusi. Hal tersebut, pada akhirnya dapat mengganggu kesejahteraan sosial individu akibat tampilan gigi yang tidak rapi.5

Deteksi dini merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah maloklusi, gigi tidak rata ataupun berantakan. Dan deteksi dini tersebut tentunya efektif jika anda rutin melakukan pemeriksaan gigi 6 bulan sekali. Karena pada pemeriksaan rutin, dokter akan menanyakan kebiasaan harian Anda, termasuk kebiasaan parafungsi (kebiasaan suka gigit pensil, kuku, menggertakkan rahang, bruxism atau menggemeretak gigi) yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya maloklusi. Tak lupa, dokter gigi pun akan memeriksa posisi gigi bungsu yang tumbuh miring atau lajur susunan gigi yang berantakan. Sehingga gangguan maloklusi dapat cepat ditangani dan terhindar dari kondisi yang semakin memburuk.

Karena maloklusi merupakan gangguan tumbuh kembang gigi, usia anak-anak pun menjadi perhatian besar. Agar maloklusi pada anak dapat terdeteksi secara dini, sebaiknya anak melakukan pemeriksaan gigi rutin minimal 4 bulan sekali. Pemeriksaan gigi ini bisa dimulai sejak anak berusia 1 tahun. Hal tersebut berkaitan dengan faktor-faktor yang melibatkan pertumbuhan, erupsi atau tumbuhnya gigi, dan psikologi.1 Selain itu, agar kesehatan gigi dan mulut anak selalu terjaga dengan baik, serta terbentuk perilaku positif anak terhadap perawatan gigi.

4. Kanker atau Keganasan Rongga Mulut

Kanker pada Rongga Mulut (Oral Cancer)

Setiap hari banyak makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Bisa dibayangkan seberapa kotor mulut dan gigi bila tidak diperiksa secara rutin? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Masalah mulut dan gigi yang dibiarkan begitu saja, juga dapat menyebabkan penyakit yang serius. Dan, komplikasi terberat dari penyakit gigi dan mulut adalah kanker.

Melakukan pemeriksaan gigi secara rutin mampu menurunkan risiko terjadinya penyakit berbahaya yang satu ini. Hal tersebut dikarenakan, dokter akan mengamati setiap tanda dan gejala yang mengarah pada kanker mulut. Dalam beberapa kasus, penyakit seperti kanker mulut tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan di stadium awal. Namun, penyebarannya cukup cepat sehingga begitu mulai terasa terganggung dengan gejalanya, kemungkinan besar kanker mulut sudah mencapai stadium akhir.

Jika ditemukan sejak dini dengan pemeriksaan gigi yang rutin tersebut, tindakan penanganan dapat segera dilakukan sebelum kanker berubah menjadi ganas. Selain itu, dokter gigi juga dapat memberikan saran pada pasien untuk menemui dokter spesialis lain jika diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Per tahunnya, kanker mulut menyumbang 2% dari seluruh data kanker yang dilaporkan dan 1% dari seluruh data kanker yang menyebabkan kematian. Prognosisnya (prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit menjadi lebih baik atau buruk) menjadi lebih baik dengan pemeriksaan dan diagnosis dini.

Banyak kelainan di mulut yang tampak tidak berbahaya, namun ternyata merupakan keganasan saat dilakukan pemeriksaan. Proses mendiagnosa pun terbilang cukup mudah, karena mulut dapat dengan mudah diperiksa dan pengambilan sampel keganasan pada mulut dapat dilakukan tanpa perlu membuat pasien tidak nyaman.1

Selain kanker mulut, penyakit serius seperti gejala awal hipertensi, diabetes, kelainan darah, dan Infeksi Menular Seksual (IMS) juga bisa ditemukan di rongga mulut, lho!

Siapa Saja yang Harus Periksa Gigi Rutin 6 Bulan Sekali?

dokter gigi anak sedang merawat pasien

Orang dewasa disarankan untuk periksa gigi rutin tiap 6 bulan sekali. Namun, apabila ada keluhan pada gigi dan mulut, Anda disarankan untuk langsung datang ke dokter gigi.

Frekuensi kunjungan 6 bulan sekali tersebut juga tidak sama untuk semua orang. Jika Anda memiliki gangguan metabolisme atau penyakit sistemik (seperti diabetes, jantung, hipertensi, dll) serta berisiko mengalami penyakit gigi dan mulut, Anda akan dianjurkan untuk periksa gigi setiap 3 bulan sekali. Hal ini juga berlaku untuk lansia yang biasanya memiliki banyak penyakit sistemik dan mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi kondisi gigi mulut, sehingga tetap perlu periksa gigi secara rutin. Dikarenakan penuaan tidak hanya menyebabkan rambut beruban dan kulit keriput, melainkan juga dapat memberikan efek tertentu pada gigi dan rongga mulut. Contoh paling banyak yang terjadi pada lansia ialah gigi yang lebih mudah berlubang, mulut kering, gigi goyang, dan kehilangan gigi (ompong). 

Anak-anak juga disarankan untuk rutin cek gigi setiap 6 bulan sekali, mulai dari usia 6-7 bulan ketika gigi susu pertama mereka sudah tumbuh, Selanjutnya, teruslah membawa anak ke dokter gigi walaupun tidak ada keluhan apapun. Selain untuk kontrol berjangka, hal ini juga bertujuan untuk mengenalkan anak terhadap dokter gigi, perawat, klinik gigi agar nantinya tidak takut jika sewaktu-waktu butuh prosedur dental. Karena masih banyak orang beranggapan jika pergi ke dokter gigi adalah hal yang menyeramkan. Padahal, teknologi kedokteran semakin maju dan hal tersebut membantu kita tidak merasakan rasa sakit atau tidak nyaman saat pergi ke dokter gigi.2

Nah, sampai sini, yuk ingat kembali kapan terakhir kali kunjungan ke dokter gigi? Jika sudah lebih dari 6 bulan, sebagai bentuk pencegahan, segera jadwalkan pemeriksaan gigi dengan dokter gigi terdekat. Klinik Mydents memiliki beberapa dokter gigi, baik untuk dewasa maupun spesialis anak serta memiliki fasilitas dan peralatan yang modern dan canggih. Jika membutuhkan pemeriksaan gigi, segera berkunjung langsung ke klinik gigi Mydents terdekat di kotamu atau hubungi layanan kami di mydents.co.id.

Ingat, jangan anggap remeh masalah kesehatan gigi, karena dampak yang ditimbulkan dapat membahayakan kesehatan tubuhmu.

Ditulis oleh: Nabilah Dzikriya Rahman, S.K.G

Ditinjau oleh: drg. Vashty A. Josall

Referensi:

  1. Sheiham A. Is There a Scientific Basis for Six-Monthly Dental Examinations? Lancet. 1977;310(8035):442–4.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2023. Pentingnya Cek Kesehatan Gigi Berkala. https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-cek-kesehatan-gigi-berkala
  3. Center for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2023. Periodontitis Among Adults Aged ≥30 Years — United States, 2009–2010. https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/su6203a21.htm
  4. Harrel SK, Cobb CM, Sheldon LN, Rethman MP, Sottosanti JS. Calculus as a Risk Factor for Periodontal Disease: Narrative Review on Treatment Indications When the Response to Scaling and Root Planing Is Inadequate. Dent J (Basel). 2022 Oct 20;10(10):195. doi: 10.3390/dj10100195. PMID: 36286005; PMCID: PMC9600378. Diakses pada 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9600378/
  5. Devi LB, Keisam A, Singh HP. Malocclusion and occlusal traits among dental and nursing students of Seven North-East states of India. J Oral Biol Craniofac Res. 2022 Jan-Feb;12(1):86-89. doi: 10.1016/j.jobcr.2021.10.012. Epub 2021 Nov 3. PMID: 34815931; PMCID: PMC8592876. Diakses pada 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8592876/
  6. ZHANG, M., MCGRATH, C., & HÄGG, U. (2006). The impact of malocclusion and its treatment on quality of life: a literature review. International Journal of Paediatric Dentistry, 16(6), 381–387. doi:10.1111/j.1365-263x.2006.00768.x. Diakses pada 2023. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1365-263X.2006.00768.x

 

Artikel Menarik Lain:

Siap untuk wujudkan senyum idealmu?

Yuk pilih cabang untuk konsultasi dengan dokter gigi ahli kami

Hubungi Kami disini...